TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS – Perjuangan ustaz Sugiarto mengharukan. Mesti tubuhnya lumpuh dia tetap mengajar ngaji kepada anak-anak di desanya di Karangbawang, Ajibarang Banyumas Jawa Tengah.

Saat tribunjateng.com mengunjungi rumahnya, tampak puluhan anak-anak mengaji Alquran sambil duduk di samping dipan di dalam kamar rumah Ustaz Sugiarto. Sementara ustaz Sugi terbaring di dipan sambil menyimak bacaan anak-anak santrinya.

Iya, tubuh Sugiarto divonis lumpuh oleh dokter sejak tahun 2000. Maka sejak itu pula Sugiarto melanjutkan mengajar ngaji sambil berbaring di dipan. Dia jadi guru ngaji tanpa dibayar. Maka mengajar ngaji adalah paggilan jiwanya tanpa mengharap imbalan.

HARU, Sudah 17 Tahun Lumpuh Ustaz Sugiarto Terus Mulang Ngaji Sambil Berbaring. Dia tidak memungut biaya. Anak-anak mau belajar mengaji saja sudah membuatnya senang. Ustaz sugi mau berobat tapi belum punya BPJS. Dia mulang ngaji di desa Karangbawang, Ajibarang Banyumas, Jateng, Sabtu (12/8).
HARU, Sudah 17 Tahun Lumpuh Ustaz Sugiarto Terus Mulang Ngaji Sambil Berbaring. Dia tidak memungut biaya. Anak-anak mau belajar mengaji saja sudah membuatnya senang. Ustaz sugi mau berobat tapi belum punya BPJS. Dia mulang ngaji di desa Karangbawang, Ajibarang Banyumas, Jateng, Sabtu (12/8). (tribunjateng/khoirul muzaki)

Puluhan murid atau santrinya ada pada tingkat latihan baca Iqra dan sebagian sudah mengaji Alquran. Sambil berbaring, Sugiarto pun menyimak dan membetulkan bacaan anak-anak didiknya.

Sebagian murid sudah fasih membaca ayat Alquran dan sebagian lagi masih terbata-bata. Semua disimak secara telaten oleh ustaz Sugiarto.

Sebenarnya Sugi sempat dirawat di RSUD Banyumas bahkan dirujuk ke rumah sakit ortopedi untuk kesembuhan kakinya. Selama 40 hari Sugiarto dirawat di rumah sakit, maka selama itu juga anak-anak di desanya tidak diajar mengaji. Itu membuatnya sedih.

Kadang dia tampak meringis menahan sakit, sambil terus mulang ngaji.

“Saya tidak ingin menjadi orang yang merugi karena menyia-nyiakan kesempatan. Saya akan terus mengajar hingga Allah memanggil saya. Semoga bisa istikamah,” kata ustaz Sugiarto.

Sugiarto dirawat oleh ibunya, Tasem. Karena tak memiliki cukup uang, Tasem terpaksa merawat putranya di rumah dengan obat yang dibeli dari apotik.

Tasem rutin bersihkan luka pada kaki Sugi yang membusuk dan berbau. Tiga hari sekali, ia mengganti perban yang membungkus luka kaki Sugi.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi kesehatan Sugi yang terus memburuk. Tubuh Sugi yang dahulu gemuk kini berubah kurus kering. Luka terbuka pada kakinya juga tak kunjung sembuh meski telah mati rasa.

Tasem sebenarnya ingin memeriksakan putranya kembali ke rumah sakit namun terkendala biaya. Ia pun tidak memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) baik BPJS maupun Jamkesda meski keluarganya tergolong tidak mampu.

Kegigihan Sugi dalam mengajar membangkitkan semangat Tasem untuk terus merawat dan mendampingi anaknya hingga akhir hayat. “Saya ingin anak saya sembuh,” ucapTasem, air matanya berderai. (tribunjateng/Khoirul muzakki)



Source link

قالب وردپرس